Dan juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad, sebuah hadits dari Yazid bin Abdillah bin Asy Syikhir dari Al A’rabi, ia berkata: aku mendengar Nabi Shalllallahu’alaihi Wasallam bersabda:
Diantara yang sifat yang agung dan mulia yang menunjukkan sempurnanya keimanan orang yang berpuasa adalah ketawadhu’an mereka serta ketinggian akhlak mereka, berupa hati dan lisan mereka yang lurus terhadap sesama saudara mereka semuslim. Tidak ada kebencian atau kedengkian atau dendam dalam hati mereka. Tidak ada ghibah, namimah, atau fitnah keji yang keluar dari lisan mereka. Bahkan tidak ada dalam hati mereka kecuali kecintaan, kebaikan, kasih sayang, kelembutan dan kedermawanan. Dan tidak keluar dari lisan mereka kecuali kata-kata yang bermanfaat, kalimat-kalimat yang berguna dan klaim-klaim yang jujur. Dan mereka termasuk kalangan orang-orang yang Allah puji dan Allah sucikan mereka dalam firman-Nya:
Rabb mereka menyifati mereka dengan 2 sifat yang agung dan mulia: pertama, yang terkait dengan lisan, Allah katakan bahwa tidak ada dalam lisan mereka terhadap saudara mereka sesama mu’min kecuali nasehat dan doa yang baik, “mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami“. Dan sifat yang kedua, terkait dengan hati. Hati mereka lurus terhadap saudara mereka sesama mu’min, tidak ada perasaan benci, dengki, dendam, fitnah, atau semisalnya.
Lurusnya hati dan lisan adalah ciri yang paling jelas dan bukti paling nyata yang menunjukkan sempurnanya puasa seseorang. Dan dahulu para salaf, mereka menganggap orang yang paling utama di kalangan mereka adalah orang yang paling lurus hati dan lisannya. Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah mengatakan:
Sufyan bin Dinar mengatakan:
Ramadhan adalah kesempatan emas dan hadiah dari Allah untuk meluruskan hati dan lisan kita dari berbagai macam kotoran dan penyakit. Maka bukanlah inti dari puasa anda itu sekedar mencegah anda dari makan dan minum namun hati anda tidak berpuasa dari hasad dan kebencian kepada sesama hamba Allah. Atau lisan anda tidak berpuasa dari ghibah, namimah, kecurangan, kedustaan, mencela dan memaki. Karena jika demikian keadaannya, maka tidak ada faedah dari puasanya kecuali lapar dan haus saja. Dalam hadits disebutkan:
Sungguh penyebab utama yang mengantarkan orang-orang pilihan tersebut untuk mendapatkan hati yang lurus adalah kuatnya hubungan mereka dengan Allah dan kuatnya rasa ridha mereka kepada Allah. Ibnul Qayyim mengatakan: “Ridha itu membuka pintu salamah (kelurusan hati dan perilaku). Ridha menyebabkan hati lurus dan bersih dari kecurangan, khianat dan kebencian. Dan tidak ada orang yang selamat dari adzab Allah kecuali orang yang datang menghadap-Nya dengan hati yang lurus. Maka mustahil orang mendapatkan hati yang lurus dengan adanya kemurkaan terhadap Allah dan tidak adanya ridha. Dan setiap kali bertambah keridhaan hamba kepada Allah, maka hatinya semakin lurus. Sedangkan kedengkian, khianat, dan kecurangan, itu pertanda adanya rasa marah kepada Allah. Sedangkan lurusnya hati dan baiknya hati, merupakan pertanda ridha. Demikian juga hasad, ia adalah buah dari rasa marah kepada Allah. Dan lurusnya hati merupakan buah dari rasa ridha kepada Allah” 4.
Buah dari lurusnya hati, yang ia sendiri adalah salah satu buah dari ridha kepada takdir Allah, sungguh tidak terhitung dan tidak terhingga. Lurusnya hati adalah kebahagiaan di dunia, kelegaan dan ketenangan. Dan buahnya di akhirat adalah buah yang paling baik, harganya merupakan harga yang terbaik. Dalam sebuah riwayat, Zaid bin Aslam mengatakan:
Dan diantara yang bisa membantu seorang Muslim agar dapat memiliki hati dan lisan yang lurus terhadap saudaranya adalah: kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan memohon kepada-Nya dengan tulus dan ikhlas agar diluruskan hatinya. Serta mengingat-ingat akibat yang baik dan buah yang berkah dari hal tersebut di dunia dan akhirat. Demikian juga mengingat-ingat akibat yang buruk dan buah yang pahit yang dihasilkan dari hati yang penuh kebencian atau dendam atau dengki dan semisalnya.
Terdapat hadits shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam doa-doa beliau yang banyak, bahwa beliau meminta hidayah kepada Allah agar diluruskan dan dikokohkan hatinya. Semisal sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
Dan sabda beliau:
Dan sabda beliau:
Dan sabda beliau:
Maka marilah kita manfaatkan bulan yang berkah ini untuk mengobati penyakit hati dan penyakit lisan kita. Dan hendaknya kita bersemangat dengan semangat yang tinggi untuk berusaha membersihkan dan meluruskan hati dan lisan kita. Karena dengan meluruskan kedua hal tersebut, kita menyelamatkan diri kita, agama kita dan dunia kita. Sedangkan merusaknya adalah sama saja merusak agama kita dan dunia kita.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah mengajarkan kita doa-doa yang agung yang dibaca oleh seorang Muslim di pagi hari dan di sore hari serta ketika hendak berbaring untuk tidur di malam hari. Dan dalam doa tersebut juga terdapat permintaan perlindungan dari sumber-sumber keburukan yang berasal dari lisan dan hati yang salah satunya menjadi sebab keburukan bagi yang lain, atau keduanya yang menjadi sebab keburukan. At Tirmidzi dan Abu Daud meriwayatkan hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu:
Dan dalam riwayat lain:
Hadits yang agung mencakup meminta perlindungan dari keburukan, sebab-sebabnya dan akibatnya. Karena semua kejahatan itu bersumber dari jiwa atau dari setan. Maka dalam doa ini kita berlindung kepada Allah dari keduanya: “aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan jiwaku dan kejahatan setan dan sekutunya“. Dan akibat dari keburukan itu, bisa terjadi pada pelakunya atau pada saudaranya Muslim yang lain, maka dalam doa ini kita berlindung dari hal tersebut: “dan (aku berlindung dari) kejahatanku kepada jiwaku atau aku menyeret seorang muslim untuk melakukan kejahatan itu“. Maka doa ini sungguh doa sempurna dan doa yang agung tujuannya dan sangat detail penunjukkannya. Dan sangat baik sekali jika orang yang berpuasa dalam bulan yang berkah ini senantiasa menjaga doa ini dalam dzikir pagi dan sorenya juga ketika hendak tidur, dan juga di sepanjang umurnya.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu hati yang khusyuk, dan lisan yang senantiasa berdzikir, dan jiwa yang tenang dan taat, dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan jiwa kami dan keburukan amal kami, dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari kejahatan setan dan sekutunya, dan kami juga berlindung dari kejahatan kami kepada jiwa kami atau kami menyeret kaum Muslimin untuk melakukan kejahatan itu.